Bacaan Injil
Luk 9:22-25

"Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku,
ia akan menyelamatkannya."

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya
bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan,
dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat,
lalu dibunuh, dan dibangkitkan pada hari ketiga.

Kata-Nya kepada mereka semua,
"Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal dirinya,
memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.
Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya,
ia akan kehilangan nyawanya;
tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku,
ia akan menyelamatkannya.
Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia,
tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?
Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan Harian Katolik

Nabi Musa memberi petuah kepada bangsa Israel di saat mereka sedang berada di padang gurun.
Mereka sedang dalam perjalanan yang sangat sulit, dari Mesir menuju tanah yang dijanjikan.
Situasi dan kondisi yang sulit ini telah membuat sebagian dari mereka mulai meragukan Tuhan, mulai berpaling kepada allah yang lain. Oleh sebab itu Musa memandang perlu untuk mengingatkan umat akan resiko yang mesti ditanggung jika mereka berpaling meninggalkan Tuhan.

Pada hari ini Renungan Harian Katolik mengajarkan kita bahwa Ketika kita menghadapi situasi yang sangat sulit, entah itu karena masalah kesehatan yang dirongrong oleh penyakit berat, entah itu karena himpitan ekonomi dan kesulitan keuangan, entah itu karena kegagalan, cekcok yang tak henti-hentinya, ancaman dan intimidasi, serta berbagai kesulitan lainnya, kita cenderung mempertanyakan, "Di mana Tuhan?"
Ketika Tuhan tidak muncul-muncul juga, terlebih lagi adanya usaha-usaha penyesatan yang dilakukan oleh nabi-nabi palsu, bisa jadi kita akan sujud menyembah allah yang lain, yakni allah yang kita yakini dapat membantu kita mengatasi berbagai persoalan hidup, dan nampaknya ia bisa membereskan secara instan, sim-salabim.

Nabi Musa menghadapkan kita pada pilihan: berkat atau kutuk; dan kita mesti memilih salah satu daripadanya, tidak bisa kedua-duanya, juga tidak bisa tidak memilih.
Menurut saya ini bukan pilihan, mana ada yang akan memilih kutuk?
Tentunya semua orang pasti akan memilih berkat.
Tetapi seringkali kita tidak siap atau tidak bersungguh-sungguh ketika mesti menindak-lanjuti pilihan kita itu.
Kita enggan hidup Katolik Kasih menurut jalan Tuhan, tidak berpegang pada perintah dan ketetapan Tuhan, dan bisa jadi saja kita malah tidak mengasihi Tuhan.

Persoalan yang utama bukanlah kita hidup tidak menuruti kehendak Tuhan, bisa terjatuh di dalam dosa, melainkan mampukah kita bangkit ketika terseret oleh dosa?
Mampukah kita menghadirkan penyesalan dan pertobatan?
Kutuk dari Tuhan bukanlah harga mati, selalu ada pemulihan setelahnya; itu karena kasih Tuhan kepada kita.
Marilah kita ambil kesempatan selama masa Prapaskah ini, untuk menggali dan memeriksa batin kita sendiri, adakah penghalang-penghalang yang menghadang kita menuju kepada Tuhan dan memilih berkat-Nya?
By : ignasiusevan.blogspot.com
Sumber : 1 2 3 4
Made with Grapedrop